Selama bulan September hingga Oktober tahun 2009, begitu banyak bencana alam yang terjadi di Pulau Sumatera. Kebetulan aku mendapat kesempatan meliput banjir bandang di Kabupaten Mandailing Natal, 15 jam dari Medan, dan yang satu lagi tentu aja gempa Padang yang menewaskan ribuan orang dan ratusan bangunan rubuh.
15 September 2009, banjir bandang di Mandailing Natal terjadi. Banjir membenamkan 6 desa dan diperkirakan 8 orang meninggal, sedangkan ratusan keluarga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.
Aku dan tim biro Medan bergerak dari Medan pada malam hari tapi bukan ke Mandailing Natal melainkan ke Padang Sidempuan, daerah yang paling aman untuk kami liputan. Untuk meraih ke lokasi banjir sendiri harus melalui 7-10 perjalanan lagi, karena enam desa itu merupakan daerah yang terisolir.
Kami di Padang Sidempuan kurang lebih 5 hari, sudah termasuk perjalanan yang hampir memakan waktu 3 hari pulang pergi. Pengalaman berharga yang kudapat ketika aku meliput banjir bandang. Aku dapat melihat secara langsung penderitaan para pengungsi, yang hanya makan mie instan tanpa dimasak, dan minum air mineral yang dijadikan air untuk mereka mandi.
Salah satu desa yang aku kunjungi, Desa Hutalinbaru merupakan desa yang mengalami kerusakan terparah. Ratusan keluarga mengungsi di dataran yang lebih tinggi, dengan membangun tenda darurat sendiri. Puluhan anak-anak turut menjadi korban yang semakin menyayat hati.

Aku meliput ke Desa Hutainbaru ini saja sudah merupakan pengalaman baru, ditambah lagi perjalanan aku ke sana. Untuk pertama kalinya aku naik helikopter Bolcow, helikopter milik Polri berkapasitas 5-7 orang. Jujur, waktu berangkat ke Mandailing Natal, aku masih menikmati perjalanan, tapi pas pulang, aku muntah.. hehehe..

Pasalnya, waktu pulang dari Mandailing Natal, aku bukan duduk tapi tiarap karena kapasitasnya 7 orang. Aku dan bang Rommy terpaksa tiduran di dalam tempat barang, dimana bau bensin menyengat dan suara mesin menderu kencang di telingaku.
Pengalaman tetap saja pengalaman, lebih berharga dari sekedar membaca buku. Disinilah teori Fenomenologis terbukti.
Usai banjir bandang berakhir, aku berusaha menikmati hari istirahatku dan tentu saja hari Ulang Tahunku ke-25. Tapi ternyata, sehari setelah ulang tahunku, aku mendapat kado ter’indah’ yakni Gempa Sumatera Barat. Dalam hati pengen menjerit, sebel banget. Baru istirahat dan mau nyiap-nyiapin nikahan eehhh dah kena musibah lagi.
Akhirnya 1 hari setelah gempa, tepatnya 1 Oktober 2009, aku dan Bang Rommy kembali berangkat ke Padang bersama Pangdam 1 Bukit Barisan Burhanudin Amin. 9 hari aku lalui di Padang dan kembali aku melihat kesedihan yang amat mendalam akibat banyaknya korban meninggal dunia dan luka berat.
Suatu hari aku bersama kameramenku, Agung Mulyana berhasil meliput penyelamatan seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Bahasa Asing Prayoga bernama Sari. Dia berhasil diselamatkan setelah 40 jam terjebak dalam reruntuhan gedung. Kakinya tertimpa puing-puing sehingga darah tidak mengalir lagi. Setelah diselamatkan, Sari dibawa ke Rumah Sakit Tentara dan kakinya terpaksa diamputasi karena sudah busuk. Poor Sari.
Tidak hanya Sari, aku juga berhasil menemui korban selamat lain yakni Suci, dosen STBA Prayoga. Aku sedih saat aku mewawancarai suaminya, Tommy yang sudah 2 hari menunggu di luar reruntuhan dan yakin istrinya selamat.
Aku melihat perjuangan, cinta dan pengorbanan para korban dan keluarga korban. Setiap aku pergi meliput, aku selalu berpikir bagaimana bila aku yang menjadi korban, apakah aku akan sekuat mereka?
Aku juga akhirnya merasakan Live Breaking News di depan Hotel Ambacang yang tidak berhenti selama 2 minggu lamanya. Live dadakan, live tanpa persiapan, dan live langsung siaran sangat aku rasakan di Padang. Tekanan demi tekanan datang ke tim peliputan baik di Padang maupun Pariaman.

JDP 1 Reunited in Padang

Aku dan Tommy Tjokro depan Hotel Ambacang
Ada kemirisan juga yang sangat jelas di depan Hotel Ambacang, tapi ini persaingan antara dua TV sih. Biasalah, antara Metro TV dengan TV One. Sebenarnya persaingan ini yang menciptakan adalah pimpinan peliputan masing-masing TV. Aku ingin mengkritik bagian perlengkapan+akomodasi Metro TV (atau divisi apalah, aku ga ngerti) yang mengurusi masalah tempat tinggal, tenda, makanan, dan tetek bengek diluar peliputan. Aku miris liat tenda Metro TV. Kami hanya berteduh di bawah terpal dan alas tikar seadanya, dan seringkali beralaskan rumput. Sedangkan, TV One mendirikan tenda yang bagus. Bukan ngiri sih, cuman jadi tahu aja seberapa besar perhatian kantor sama tim Peliputandi lapangan.
Tanpa bermaksud menjelekkan kantor sendiri, aku hanya ingin para pimpinan berempati sama tim yang peliputan. Kalo buat hasil kerja, aku sih serahin sama pemirsa aja. Pemirsa kan ga tau mana tim liputan yang bertendakan terpal atau tidak… hehehe..

Tenda Metro TV

Tenda TV One
Pengalaman menarik lainnya, aku naik helikopter milik TNI Angkatan Darat berjenis Bolcow dan Super Puma. Aku dan Bang Rommy akhirnya mendapat kesempatan ke Kepulauan Mentawai. Tidak hanya itu, aku akhirnya muntah lagi, karena 8 kali naik turun helikopter.. hahaha..

Aku dan Bang Rommy di Kep. Mentawai

Aku dan Bang Rommy di Helikopter TNI AD
Baik buruknya peliputan, semua ini tetap berarti dihatiku. Aku pulang ke Jakarta tanggal 9 Oktober karena aku harus mengurus resepsiku. Aku meninggalkan kota Padang dengan kepedihan tersendiri. Semoga cepat pulih, Sumbar.
Love,
Ledy Simanjuntak




Love this model, karena dia menutup leher yang jenjang dan dada. Bunga kebaya akan dikonsentrasikan banyak di bagian leher dan dada. Bunga kebaya yang besar juga akan ditempel di dua lengan, sedangkan bunga kecil di pergelangan tangan.
Kebayanya klasik, meski ada sentuhan leher yang tinggi terkesan modern. Keren banget. Mungkin kerah kebayaku tidak akan setinggi punya Mitra, supaya bisa terlihat beda dengan kerah kebaya Martumpol dan Resepsi.









Make up-nya juga kurang lebih seperti ini. Rencananya, untuk jasa make up di resepsi, aku pake vendor rekanan Puspita Sawargi. Selain make up pengantin, mereka juga handle make up untuk ibu-ibu pengantin, pagar ayu, dan penerima tamu. Mereka juga nyediakan busana dan aksesoris.





















Hari ini, 3 September 2009, bapakku genap berusia 61 tahun. Dia lahir di Balige, tahun 1948 lalu saat penjajahan Jepang. Ia diberi nama Baringin Batahan Parlinggoman Simanjuntak, yang artinya Pohon Beringin yang menjadi tempat Pertahanan dan Perlindungan.
Tahun 2009 akan menjadi live event lebaran ketiga yang aku jalani selama aku jadi reporter. Bedanya, tahun ini aku menjalaninya di Medan dan aku ditugaskan menjadi Project Officer (P0) untuk live event 21 september nanti.









