January, 2010
Rasanya legaaaaa banget aku sudah melangsungkan pernikahanku tanggal 18 Desember 2009, tepatnya pertengahan bulan lalu. Meski ada satu hal lagi yang belum terlaksana yakni resepsi pernikahanku di Jakarta yang akan diselenggarakan tanggal 17 Januari 2010 ini, tapi perasaanku sudah jauh lebih ringan dari sebelumnya.
Sekedar berbagi cerita pada calon pengantin ataupun pembaca blogku ini, aku menyiapkan pernikahan bersama suamiku ini skitar 5 bulan lebih. Untuk makanan (catering) di Medan menjadi tanggungan pihak suamiku, di luar itu menjadi urusan kami berdua.
Mendekati hari pernikahanku, rasanya frekuensi kepala pening mulai terasa, meski tidak segila yang kubayangkan. Mungkin karena aku berpikir realistis berkaitan dengan budgeting, jadi aku tidak mau memaksakan diri dalam setiap memilih vendor. Kami bukan orang kaya, jadi tidak mungkin kami melakukan pernikahan megah bak putri raja. Secara persiapan pribadi, vendor-vendor yang kami pakai sederhana dan terbilang murah, tapi (menurutku) cukup baik.
WARDROBE PERNIKAHAN
Untuk kebaya pernikahan, kembali aku ulang disini, aku menggunakan jasa penjahit rumahan bernama A Chin yang terletak di jalan Raden Saleh Dalam No. 21, Medan, Sumatera Utara. Aku menjahit 3 kebaya, 1 songket pernikahan, 1 selendang pernikahan, 1 rok batik. Totalnya sekitar Rp. 3,9 juta. Menurutku untuk menjahit sebanyak itu worth enough, daripada di butik atau tukang jahit lain di Medan yang mungkin sudah lebih dikenal tapi harganya selangit.
A Chin mematok harga kebayaku rata-rata 1 jutaan, seperti kebaya Martumpol Rp 1 Juta, dan Pernikahan Rp. 1,2 juta. Kebayanya sudah cukup mewah, apalagi untuk payet bagian dada, lengan+tangan, dan bunga pinggir. A Chin menggunakan payet batang, pasir dan bulat kristal Jepang. Tidak perlu menggunakan kristal Swaroski saja sudah mewah menurutku.
Mahal atau tidaknya kebaya sebenarnya tergantung seberapa banyak payet yang kita mau. Kalo mau seluruh bunga kebaya dipayet maka bisa memakan biaya sampe 2 jutaan.
Jadi intinya tergantung kita.
Detail harga jait di A Chin:
- Upah Jahit Rp. 350.000
- Bustier Rp. 150.000
- Payet Rp. 300.000-2 juta
- Bawahan Rp. 125.000
- Payet Selendang Rp. 200.000
Sedangkan untuk jas Bang Denny, dia jahit jas sekitar Ro. 400 ribuan di daerah PIK, Menteng Raya, Medan. Dasinya beli di Sogo Sun Plaza sekitar Rp. 150-200ribuan.
Untuk sepatu nikah, aku beli di Aveda Sun Plaza sekitar Rp. 700 ribuan. Aveda bagus sih, tapi mahal karena dia memakai kristal swaroski. Padahal ada yang lebih murah di pasar Petisah. Sayang sekali, aku baru tahu ada yang bagus dan murah di sana. Maklum, warga baru Medan sih.
Sedangkan Bang Denny sepatunya Edward Forrer. Bang Denny memang ga gila merek, yang penting simpel dan nyaman katanya.
DEKORASI PERNIKAHAN
Awalnya aku mungkin seperti perempuan kebanyakan lainnya yang menginginkan dekorasi keren, bak putri salju mo nikah. Hihihihi. Tapi ada dua hal yang mengurungkan niatku untuk menggunakan vendor mahal.
Pertama, persoalan pasti terletak pada budget. Bisa aja sih kita pake vendor yang sudah punya nama seperti Paulina atau Viesta dengan dekorasi yang memakan biaya mulai dari 3 juta (bunga mati) sampe 7 jutaan (bunga hidup), tapi pertanyaannya BUAT APA ?!
Kedua, pernikahan kami bukan mau ngeliatin dekorasi tapi mau melihat pengantin dan kehangatan kekeluargaan dari keluarga besar serta rekan-rekan kami. Dibanding ke dekorasi, mending total di makanan atau catering, karena itu yang akan dinikmati secara langsung sama undangan.
Ketiga, kami masih mengadakan resepsi di Jakarta dan dekorasi di Jakarta akan lebih memakan biaya dibanding di Medan.
Jadilah kami menggunakan Simamora Florist, rekanan Wisma Marindal, dengan harga cukup Rp. 1,3 juta saja. Seneng banget liat harganya. Hahaha.. Dengan harga Rp. 1,3 juta, kami sudah mendapatkan dekorasi di gereja dan di gedung. Kami sengaja memilih bunga mati semua, daripada jadi rebutan ibu-ibu yang norak suka nyabutin bunga di pesta. Yang ada pestanya malah ancur karena bunga-bunga hidup yang berantakan. No Way !!
Kami dapat 10 standing flower, 2 bunga di lantai, bunga kantong untuk mempelai pria, bunga tangan (hand bouquet), bunga tabur, bunga mobil, melati untuk pengantin, melati untuk 2 ibu mempelai, dan 3 bunga dinding dan tirai untuk pelaminan. Menurutku untuk harga segitu, pelayanan cukup memuaskan.
Sedangkan untuk dekorasi di resepsi pernikahan Jakarta, cukup memakan biaya karena sudah termasuk dalam paket. Sengaja aku satukan aja dalam paket yang disediakan supaya aku dan keluargaku ga repot lagi ngurusinnya. Harga paket dekorasi resepsi sekitar Rp. 8 juta, termasuk dekorasi pelaminan, buffet makanan, pintu tamu dan entrance masuk.
SOUVENIR PERNIKAHAN
Banyak penyedia souvenir pernikahan, baik yang buka toko di Medan maupun online, tapi akhirnya aku memutuskan untuk pake jasa souvenir online di souvenirpernikahankumurahmeriah.blogspot.com. Aku memesan dua jenis souvenir yakni tempat tissue tikar yang harga Rp. 1000/buah dan dompet lipat batik seharga Rp. 1500/buah. Senangnya lagi, souvenir per buah di diskon 100 perak. Aku pesan 200 buah aja untuk masing-masing souvenir.
Total untuk souvenir mulai dari harga barang sampe ongkos kirim Rp. 325.000 saja.
Kebetulan Bapakku juga buat CD Lagu Souvenir untuk resepsi, jadi untuk resepsi di Jakarta aku ga usah mikir lagi untuk souvenir. Bapak sudah cetak 1000 CD yang isinya 6 lagu-lagu karaoke yang pernah aku rekam tahun 2007 lalu, ditambah rekaman Hot Batahan.
SALON PENGANTIN
Dibalik semua itu, sebenernya yang paling aku takutin adalah pemilihan salon. Kenapa tidak? Dari segala persiapan pernikahan, yang tertinggal di selembar foto adalah bagaimana tampilan pengantin di foto kan?! Bukan dekorasi, bukan makanan, tapi muka ke dua pengantin yang berulang kali kena jepret kamera.
Atas rekomendasi bang Andi Cristop, seorang mantan model dan sekarang menjadi fotografer -yang sekarang gendutnya ya ketulungan – akhirnya aku menggunakan jasa Budi Salon yang terletak di Jalan Teuku Umar No. 3E, Medan. Bang Budi agak-agak melambai bokkk, tapi dia orang baik banget dan modern.
Untuk riasan pernikahanku kali ini dia menerapkan make up klasik, dengan bibir merah merekah dan bulu mata palsu yang lentik. Bang Budi bahkan sampe menggunakan 2 bulu mata palsu supaya memberikan efek klasik di mataku. Warna eye shadow dan blush on pakai warna tanah, tapi dia pertebal di eye liner dan lashes (bulu mata palsu).
Untuk sanggul, aku memang harus memakai sanggul klasik, tanpa banyak bunga macem-macem. Cukup bunga melati di pangkal sanggul dan dua juntaian melati di sisi kanan kiri. Aku juga tidak pake sortali, pengikat kepala khas Batak.
Harga untuk make up pengantin dibandrol Rp. 1 juta, untuk tambahan Rp.250 ribu per orang.
WEDDING CAR
“This is the most unique wedding that i ever come“, said one of our wedding guest. Wajar dia bilang begitu karena aku aja yang menikah masih terheran dengan mobil pengantin kami, Fiat 1950, 1000 cc. Fiat adalah mobil klasik yang dipakai di Italia. Mobil ini kami peroleh hasil pinjaman dari salah satu teman baik bang Denny namanya Pak Rusdi, yang biasa dipanggil Wak Lambe.
Dengan mobil pengantin ini, sepanjang jalan kenangan menuju gedung pesta menjadi perjalanan paling menyenangkan dalam hidupku. Berada dalam mobil tua yang unik ini membuat semua mata tertuju pada kami.
Mobil Fiat ini juga yang mewarnai foto Pre-Wed kami pada bulan November, 2009. Beberapa fotografer yang secara sukarela mengabadikan momen pre-wed kami, membuat aku berdecak kagum dengan hasil editan mereka. Terima kasih buat Bang Faisal Reza (Ical), bang Andi Lubis, Kak Andre, Yvonne, Iwan, dan Bang Tjody atas hasil editannya. Ini beberapa karya mereka.
Rasanya jadi ingin mengulang masa-masa persiapan wedding.. So much fun!!
Selain naik mobil Fiat, perjalanan menuju gedung Wisma Marindal juga sangat seru. Gemana enggak, kami ga ada pake foraider, tapi yang secara sukarela mengiring kami adalah teman-teman dari Land Rover Club dan XTrim. Mereka adalah pecinta Land Rover dan Motor Trail. For me, this is more than Foraiders.. Yippiiiee..
Yang pasti bapak mamakku antara pening dan senang liatnya. Soalnya nikahan borunya (anak perempuannya) agak gak normal. Itu karena aku menikahi laki-laki yang antik, dimana bang Denny sukanya barang-barang klasik. Bersyukurlah aku..
Akhir kata, semoga pernikahan kami ini bisa menjadi berkat untuk semua orang. Kembali lagi ledy ingatkan, pernikahan kami ini sederhana tapi berkat teman-teman yang mau menyumbangkan waktu, tenaga, dan sumbangan materialnya, pernikahan kami jadi meriah. Makasi teman-teman dan tentunya keluarga kami tercinta. Tanpa kalian, tanggal 18 Desember 2009 tidak akan seindah itu.
Sincerely Us,
Ledy & Denny
Last but not least, karikatur pernikahan diatas ini merupakan pemberian dari salah satu sahabat kami, Yvonne Tan. Selama pembuatan karikatur ini, Ipon – panggilan Yvonne – sangat antusias dan sangat serius. Kami jadi terharu.. Makasi ya Ipon. Tanggal 6 Januari ini, Ipon akan sekolah ke Jepang untuk beberapa tahun. We’re gonna miss u, sweety.. Thank you for your presence. Mudah-mudahan kalo kami ada rejeki, kita susul ke Jepang (Amin !!)












































Love this model, karena dia menutup leher yang jenjang dan dada. Bunga kebaya akan dikonsentrasikan banyak di bagian leher dan dada. Bunga kebaya yang besar juga akan ditempel di dua lengan, sedangkan bunga kecil di pergelangan tangan.
Kebayanya klasik, meski ada sentuhan leher yang tinggi terkesan modern. Keren banget. Mungkin kerah kebayaku tidak akan setinggi punya Mitra, supaya bisa terlihat beda dengan kerah kebaya Martumpol dan Resepsi.









Make up-nya juga kurang lebih seperti ini. Rencananya, untuk jasa make up di resepsi, aku pake vendor rekanan Puspita Sawargi. Selain make up pengantin, mereka juga handle make up untuk ibu-ibu pengantin, pagar ayu, dan penerima tamu. Mereka juga nyediakan busana dan aksesoris.





















Hari ini, 3 September 2009, bapakku genap berusia 61 tahun. Dia lahir di Balige, tahun 1948 lalu saat penjajahan Jepang. Ia diberi nama Baringin Batahan Parlinggoman Simanjuntak, yang artinya Pohon Beringin yang menjadi tempat Pertahanan dan Perlindungan.
Tahun 2009 akan menjadi live event lebaran ketiga yang aku jalani selama aku jadi reporter. Bedanya, tahun ini aku menjalaninya di Medan dan aku ditugaskan menjadi Project Officer (P0) untuk live event 21 september nanti.









