dscn1969edit

… Crazy Week in Bali part 1…

I don’t know where to start this story.. Too much memories, too much guilty pleasure, too much everything. And it was all started with my cousin, Mericka. We were always been together for a whole week in the island of God, Bali.

We already plan for Bali’s trip in the mid year. I remember our last trip was to our village Balige in 2004 to visit our grandma. But that wasn’t a holiday because we have to look out our grandma, she was so sick. Instead, we still in the college and didn’t have our own money. In fact maybe this is the first time we really have our own cousin-time and enjoy for being ladies.

Bali was the purpose of our destination, perfect place and perfect timing. We want to explore Bali more than ever, but sadly it always rain and sometimes ruin our plan. Btw, i will using Bahasa Indonesia cause my head is spinning so fast to write all of our memories. Best for me to use my mother language.

***

Perjalanan kami dimulai pada 14 Desember 2011.

Flight kami menunjukkan pukul 12.40 dan kami akan tiba di Bali sekitar pukul 3 sore. Kami memutuskan untuk check in terlebih dahulu agar bisa lebih bersantai.  Tetapi ternyata saking santainya, aku dan Icka hampir ketinggalan pesawat. Kami adalah 2 penumpang terakhir yang ditunggu 175 penumpang pesawat Citilink menuju Bali. Untunglah kami duduk di bangku no.1. Tanpa banyak basa-basi, secepat kilat kami duduk dan cekikikan sendiri. Bagaimana tidak? Setibanya kami menginjak kaki di badan pesawat, pintu langsung ditutup. Coba bayangkan kalo kami terlambat 1 menit lagi, no more Bali maybe.

Perjalanan selama 1 jam tidaklah pernah terasa bila bersama sepupuku yang satu ini. Terlalu banyak cerita yang ingin ditumpahkan, apalagi kami tinggal terpisah – Medan dan Jakarta.  Ga perduli seberapa jauh kami dipisahkan, bagaimanapun status kami, kami tetaplah sama. Dua sepupu yang saling merindukan satu sama lain dengan karakter yang tidak pernah berubah dari sejak kecil.

Tidak terasa pulau Bali di hadapan kami. Segera kami akan mencicipi kegilaan pulau ini dengan berbagai bentuknya. Kami dijemput oleh suami temennya Kak Nova, Sean. Kak Nova sendiri ialah tetangga Icka di Griya Tugu Asri. Mereka sempet kerja bareng sebagai guru, namun sekarang Kak Nova sudah menetap di Bali dan menikahi seorang pria keturunan Australia, Sean. Tidak hanya dijemput, kami juga akan menetap di rumah Kak Nova dan Sean. Dua orang yang luar biasa baik ini mempersilahkan kami menempati salah satu kamar tamu, di rumahnya yang mungil dan cozy di Jl. Warkudara Gang Bintang, Legian, Bali.

Menuju jalan Warkudara, kita akan melewati jejeran toko baju dan aksesoris khas Bali dengan harga murah karena rata-rata mereka menjual barang wholesale tepatnya di Jalan Arjuna/Double Six. Cocok sekali bagi pendatang yang ingin buka usaha pernak-pernik Bali di daerahnya masing-masing. Selain murah, variasi aksesoris dan bajunya pun sangat unik. Terbukti dari banyaknya belanjaan kami di daerah itu. Daerah tempat tinggal kami juga sangat strategis, karena dekat dengan pantai dan pusat kota. Namun, untuk ke pantai Kuta sebaiknya gunakan taksi supaya kaki ga gempor.

Kembali ke rumah kak Nova, ia menyediakan 1 kamar lengkap dengan kamar mandi, lemari kecil dan televisi untuk kami. Kamar ini memang khusus disiapkan untuk orang yang ingin kontrak. Mumpung belum ditempati, maka kami bisa menginap di sini. Kamar ini juga yang menjadi saksi kami dalam hal curhat-curhatan selama di Bali, obrak-abrik pakaian dan tukeran baju. Biasanya kamar ini akan kami tempati pada pagi dan subuh hari. Pagi saat bangun tidur, subuh saat pulang dari jalan-jalan dan kembali tidur. Malam hari kami hanya bertahan di kamar selama 2 jam untuk siap-siap jalan.

Kami berdua ternyata memiliki dua fans sejati yakni 2 orang anjing bernama Buddy dan Goldie. Buddy adalah anjing jenis Golden Retriever dan Goldie anjing peranakan Bali. Mereka berdualah yang selalu setiap menjilati kami – terutama Icka –  dan menyambut kami tiap bangun pagi dan pulang pagi. Hahaha..

Hari pertama di Bali tidak banyak yang kami lakukan. Aku dan Icka berencana mengajak Sean dan Kak Nova makan malam, terserah di mana mereka suka. Mereka akhirnya memilih salah satu restoran Italia dekat dengan rumah bernama Marzano.

Marzano’s resto has a pretty lights hanging in the void. Restoran Italia ini juga senantiasa dipenuhi oleh bule-bule dari berbagai negara yang rindu akan makanan khas Italia. Malam itu kami saling share makanan spagheti, lasagna, dan mexican pizza. Mengenai harga cukup menguras kantong sih, karena standar yang digunakan juga standar turis ya bow.

Setelah makan malam, Sean kembali ke rumah karena ada pekerjaan yang diselesaikan, sedangkan kami bertiga jalan-jalan di sekitar double six Legian. Ada beberapa gedung dan hotel yang sedang dibangun, sehingga menyebabkan ruas jalan di Bali padat karena penyempitan jalan. Ditambah lagi Desember ialah bulan yang paling padat pendatang. Sebagian besar turis-turis asing melarikan diri dari negaranya menghindari dinginnya salju. Mereka mencari sinar matahari di Asia, dan Bali tentu saja objek yang paling utama untuk menghabiskan waktu akhir tahun mereka.

Jalan-jalan sambil foto ternyata bisa bosen juga, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke gay bar yang cukup terkenal di Bali, Mixwell Bar.

Mixwell Bar terletak di Seminyak Bali, sebuah club gay yang tidak terlalu besar tapi full pack. Yang paling menarik ialah penampilan para perempuan palsu sekaligus lipsync-er. Biasanya mereka akan bergaya lipsync menyanyikan lagu hits lengkap dengan dress code-nya, ada yang seperti Rihanna, Pussycat Doll, Lady Gaga, Barbie, macamlah pokoknya. Ulah mereka tentu saja mengocok perut tetapi juga keren lho. Tak sedikit dari mereka yang bergaya lebih dari perempuan, lengkap dengan korset, stocking jaring-jaring, dan kemben.

Aku pikir penampilan termutakhir malam itu hanya dari para perempuan jadi-jadian, ternyata tidak. Semakin larut malam, puncak acara pun tiba. Seketika sekumpulan laki-laki (entah normal atau tidak), bertubuh kotak-kotak alias six pack, hanya mengenakan celana dalam dan diantaranya ada yang dililit tali pistol (duh!!), meliuk-liukkan tubuhnya seolah-olah sangat mengikuti musik (padahal sama sekali tidak). Mereka beraksi dengan memasang tampang mesum, lengkap dengan mata terpejam dan tangan yang menggeliat di tubuhnya sendiri (ish!!).

Oh Tuhan, ampuni aku atas pemandangan yang buat aku vertigo ini. Namun, malam itu Bali berhasil membuat mataku melotot melihat laki-laki setengah telanjang hahaha dan sama sekali tidak membuat napsu.

Untunglah penampilan para lelaki kekar tapi lebay ini segera berakhir dan diganti dengan iringan musik DJ yang berdentum kencang di telingaku. Awalnya malu untuk nari, tapi setelah melihat segerombolan bule gay yang – agak- gak tahu malu nari-nari, badan ini tergerak juga untuk nge-dance. Ditambah lagi ada pemandangan indah di depanku yakni bule ganteng yang makin ganteng aja di remang-remang klub ini. Sayang kelakuannya agak tengil. Yuuuu… Ganteng tapi tengil, biasa aja jadinya.

Menghabiskan hampir 2 jam di gay bar cukup membuat malam pertama di Bali berwarna. Seumur hidup baru kali ini berkunjung ke klub aneh yang buat ketawa tiap menitnya. Bali memang kreatif sekaligus hedon. Ini baru kehedonan hari pertama lho, masih ada 6 hari lagi di Pulau Dewata ini. Ga sabar untuk menikmati kegilaan Bali sekaligus menyaksikan kumpulan manusia dari berbagai negara di negeriku Indonesia.

Stay tuned for the next journey in Bali.. This is just only a beginning..

Ledy Simanjuntak

One thought on “… Crazy Week in Bali part 1…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s