IMG-0459

.. Cermin Kesatuan dari Keberagaman ..

Baru saja aku membaca artikel di Facebook yang isinya lirih di hati. Artikel ini aku temukan di FB suamiku, dan memang baru saja dia mengatakan baru saja membacanya dan menitikan air mata. What? Seorang Denny Sitohang nangis, pikirku? Antara percaya dan tidak.

Akhirnya aku memutuskan untuk membacanya juga. Ternyata memang betul, artikel ini sangat menyentuh hati. Isinya tentang pertemuan seorang manusia dengan Tuhannya, namun dari sisi yang berbeda. Tidak seperti orang kebanyakan. Mungkin akan ada kelompok masyarakat yang menentang kesaksian ini, tapi menurutku tiada hal yang lebih indah dari  pertemuan diri kita dengan Tuhan. Others may be jealous but maybe because they not see God directly. Ini dia artikel yang ditulis oleh Muna Panggabean tentang kesaksian Fariz RM, musisi Indonesia yang sudah malang melintang di bidangnya.

5 januari 2011, fariz rm berharijadi yang ke-52. bersama wiendy widasari, diani sitompul, si kecil sophia, dan sahat, saya datang berucap selamat. oneng menyambut dengan wajah riang, fariz menyusul 10 menit kemudian. kue harijadi ‘Fariz 52: mengalir lebih deras’ yang kami pesan dari rumah kue Hansel & Gretel tersaji di meja. ditemani sophia, putri diani, fariz meniup lilin, memotong kue, menyuapi sang istri dan memberi kecupan tipis di bibir. saat mencicipi kue double chocolate, fariz terbelalak. luar biasa enak, serunya.fariz kemudian makan mie panjang umur yang dibawa diani. sahat menghajar 1 dari 7 bungkus nasi padang rumah makan Sederhana yang dibawanya. sebuah perayaan hari jadi yang bersahaja namun hangat. seusai makan, kami berkongkow seru, termasuk membincang komentar beberapa teologiman di facebook soal ibadah natal di gki maulana yusuf, 25 desember 2010. berikut, petikannya:

saya mengenal yesus sejak lahir, berdoa padanya, dan rajin mengikuti komuni. itu kebiasaan indah yang menghias masa kecil. ketika mami kemudian menjadi mualaf, saya pun ikut dengannya. saya seorang muslimin yang tidak terlalu taat, jarang sholat, namun berusaha mati-matian menghargai kemanusiaan.

saya hidup di negara yang menganut ‘bhineka tunggal ika’ sebagai semboyan yang menghidupi masyarakatnya. ketika kemudian menjadi musikawan, nilai-nilai itu muncul di setiap karya musik yang saya persembahkan. saya menolak untuk dikotak-kotakkan ke dalam warna musik tertentu, parpol tertentu, bahkan agama tertentu. saya milik semua golongan. itu cara yang saya pilih untuk bersetia kepada republik tercinta ini.

ketika menerima undangan dari gki maulana yusuf untuk menyanyi di dalam ibadah natal tanggal 25 desember 2010, oneng sempat sedikit kuatir. saya menenangkannya dengan berkata: jika ini undangan dari tuhan, semua akan dimudahkan. saya bertanya kepada sahat, lagu apa yang harus saya nyanyikan. sobat saya yang ‘setengah dewa’ itu menjawab cepat: Mari Pulihkan Dunia, dan Aku Mau Bilang Padamu. yang bikin saya kaget, pendeta berty minta agar Mari Pulihkan Dunia dinyanyikan bersama jemaat di dalam ibadah. saya bertanya kepada diri sendiri: siapakah saya yang muslimin ini hingga mendapat kehormatan memandu umat kristen menyanyikan lagu pujian kepada tuhannya?

saya lalu terkenang kembali ke masa kecil ketika rajin pergi ke gereja bersama mami. ada rasa haru yang menyeruak. gambar di layar kenangan itu berpindah cepat ke rentang waktu ketika saya berada di dalam penjara akibat sebuah kebodohan yang luar biasa. saat itu, ravenska dan ravenski bercerita tentang suster-suster di sekolah tarakanita yang sering bertanya tentang keadaan saya di penjara cipinang. ayah, kata venska, beberapa suster setiap pagi menyalakan lilin dan menaikkan novena untuk kebebasan ayah. doa-doa mereka mewujud. saya dibebaskan dari segala tuntutan. malam pertama kembali berada di rumah, saya merenung dan bertanya kepada tuhan, kapan saya bisa membalas kebaikan orang-orang kristen itu?

semua kenangan itu memantapkan hati saya untuk memenuhi undangan gki maulana yusuf. sedikit pun tak ada lagi keraguan di hati. sehari sebelum berangkat ke bandung, saya berkunjung ke rumah mami. saya terkejut ketika mendapati dia sedang membaca buku Dari Sebuah Guci. berhari-hari mami tak bisa lepas dari buku ini, indah sekali, ucapnya. mami mengaku sudah baca buku tersebut 2 kali, dari awal hingga akhir. ini yang ketiga kali, katanya. kepada mami saya lalu bercerita tentang rencana kepergian ke bandung esok dan bernyanyi di dalam ibadah natal. pergilah, ucap mami sambil mengecup pipi saya, tidak semua orang seberuntung kamu.

saya memutuskan untuk menyanyikan Aku Mau Bilang Padamu tidak seperti versi CD Dari Sebuah Guci. syairnya sederhana, tapi sangat menggetarkan. saya ingin menyampaikannya dengan cara yang juga sederhana: bernyanyi sambil memainkan piano tunggal. semua hentak perkusi saya hilangkan. keindahan syairnya harus sampai ke umat yang mendengar.

tanggal 25 desember itu saya bangun pagi dan menyiapkan diri dengan utuh: tidak cuma pita suara tapi juga hati, karena hanya dengan sikap jujur sebuah pesan bisa mendarat dengan baik. keluar dari kamar hotel, saya dan oneng bersua dengan sahat dan muna dan langsung menyampaikan selamat natal. kami berdua berangkat ke gereja, jauh mendahului muna dan sahat yang bahkan pada saat itu belum mandi. ya, saya sangat bersemangat menyongsong pengalaman spiritual yang sebentar lagi saya masuki.

di dalam gereja, saya memeriksa keyboard dan sequencer, memastikan semua sudah terhubung dengan baik. semua berjalan lancar. saat itulah sebuah suara menyelinap keluar sanubari: tuhanlah yang mengundang saya datang ke rumahnya pagi ini. saya ingat betul, dada saya bergetar saat itu.

ibadah dimulai. saya duduk bersama oneng dan muna. aneh, saya sama sekali tidak merasa asing dengan suasana yang tercipta. saya dan oneng duduk dan berdiri sesuai dengan ajakan yang tertulis dalam tata ibadah. ketika mendengar umat bernyanyi, saya tergetar oleh keindahan musikal yang tersaji.

dan, tibalah giliran saya maju ke depan. bohong, jika saya katakan dada saya tidak berdebar. pertama, ini kali pertama saya bernyanyi di pagi hari, beberapa menit sebelum jam 8. kedua, ini kali pertama juga saya bernyanyi di tengah-tengah orang kristen di dalam ibadahnya. sebab, jangankan di dalam gereja, di dalam masjid pun saya belum pernah bernyanyi.

intro mengalun sepanjang 4 bar dan saya lantas terkejut karena keheningan betul-betul menyekap. demi allah, saya kepingin menangis ditemani suasana sekhusyuk itu. tidak satu pun suara lain terdengar, tidak seperti di konser-konser saya yang riuh dan penuh celoteh. saya betul-betul di bawa ke hadirat allah untuk mengumandangkan pujian kepadanya. larik demi larik saya ucapkan. saya tahu, syair lagu Aku Mau Bilang Padamu ditulis muna panggabean berdasarkan nyanyian pujian maria di injil Lukas. sambil bernyanyi saya mengenang devosi dan salam maria yang dulu kerap saya ucapkan di masa kecil. saya terkenang kepada mami, kepada opa dan oma. saya merasa dipersatukan kembali dengan mereka setelah selama ini dicekoki paham-paham yang mengatakan ada tembok pemisah yang kokoh antara umat islam dan umat Kristen. itu adalah 4 menit terindah dalam hidup saya. 4 menit yang mengatasi semua kepahitan. dulu, ketika menguburkan anak pertama saya, saya berkata, ya allah, aku hadapkan wajah anakku ini kepadamu; tapi beri aku keajaiban agar aku kembali percaya kepadamu. tak cuma satu, tuhan kemudian memberi saya sepasang anak kembar. dan pagi itu, di dalam gedung gereja, tuhan yang dulu saya tantang, tuhan yang dulu saya sangkal, berhadapan dengan saya dan menyinari wajah saya dengan kemuliaanya. kepada dunia cinta mendamba dan mengosongkan dirinya.

saya sangat menikmati khotbah pendeta berty. buat saya, dia adalah imam bagi kemanusiaan yang utuh. dia mengajarkan saya untuk tidak merasa terpisah dari sesama umat. saya berbahagia sekali dan membayangkan menyampaikan kabar itu kepada mami di rumahnya. saya membayangkannya berkata begini: mami tidak perlu gelisah. di surga, kita akan berjumpa dengan opa dan oma karena ternyata mereka juga ada di sana.

damai kian merasuki hati ketika mendengar tuturan yanti kerlip, perempuan berjilbab yang teguh menyapa umat kristen dengan ucapan: saudaraku yang seiman, pagi ini kita merayakan hari kelahiran yesus kristus. it’s ring my bell, bukankah yesus juga nabi yang saya puja?

selanjutnya nafas saya menderu menikmati rancaknya para penabuh ar-rahman memukul kendang dan rebab. ulil abshar abdalla membantu saya dan segenap umat islam untuk meyakinkan umat kristen bahwa kami bukan kaum barbarik yang semena-mena dan mengira punya kuasa untuk mengatur republik ini sendirian. saya bersyukur mendapati islam Indonesia memiliki seorang intelektual secerdas dia. ah, pagi itu saya ternyata punya sangat banyak alasan untuk bersyukur.

lalu, puncak acara saya masuki dengan mendendangkan lagu Mari Pulihkan Dunia. itu memang bukan kali pertama saya bernyanyi dengan orang banyak, tapi pagi itu saya bernyanyi bersama mereka kepada tuhan. semua orang bernyanyi sambil bertepuk-tangan: tua-muda, besar-kecil di gedung gereja yang penuh sesak. saya sangat bersukacita.

dan ketika kebaktian usai, saya berdiri di pintu keluar bersama pendeta berty, ulil, muna, dan oneng, rahmat allah yang maha besar terasa diguyurkan ke wajah saya. ada lebih dari 1000 orang yang menyalami saya dan berkata satu-per-satu: ‘terima kasih atas lagu-lagunya, mas, saya merasa diberkati’. saat itu saya langsung tahu, jika kelak mui atau fpi mengecam keterlibatan saya di dalam ibadah natal ini, saya sudah punya jawaban: ‘menurut kalian, dengan ucapan seperti itu yang saya terima dari lebih 1000 umat, saya akan diganjar pahala atau kutukan?’

saat itu pula saya teringat akan wejangan papi, beberapa jam sebelum dia mengembuskan napas terakhir dahulu. is, kata, papi, ingatlah bahwa kamu seorang khalifah. waktu itu saya jawab, saya tahu, pap. tidak, kamu tidak tahu, tolaknya kemudian. kamu tidak tahu bahwa kamu adalah seorang khalifah bagi para penggemarmu. saya tersentak, itu beban yang sangat berat.

‘terima kasih atas lagu-lagunya tadi, mas fariz, saya merasa diberkati.’ masya allah, wejangan papi menemukan wujudnya pagi itu. (pada bagian ini mata fariz berkaca-kaca).

jadi, muna, kalau para ahli teologi mengecam ibadah natal kemarin, itu berarti mereka sama sekali tidak peka kepada kebutuhan umatnya. mereka membutakan mata bahwa di antara para jemaat ada yang memiliki dilema seperti mami saya. pasti ada dari antara mereka yang berayah-ibu islam, atau berkakek-nenek islam dan selama ini terus dihantui ketakutan tidak bertemu dengan mereka lagi di sorga nanti. ibadah natal tanggal 25 desember kemarin telah menyatukan kita semua. bahwa nanti di surga, suasananya sama seperti di gki maulana yusuf kemarin: orang Kristen, islam, hindu, Buddha, konghucu, sinto, berdiam di satu rumah, memuji dan menyembah allah yang satu. lebih daripada segalanya, ibadah natal gki maulana yusuf kemarin telah menghadirkan prototipe surga kepada kita.

yang terakhir, tolong tanyakan kepada mereka yang mengecam itu, apakah ada dari antara mereka yang pernah diundang langsung oleh tuhan? saya, fariz rm sudah pernah dan saya memenuhi undangannya pada tanggal 25 desember 2010 di gedung gereja gki maulana yusuf. di sana saya memuliakan tuhan yang turun ke bumi dalam rupa cinta.

sepulang dari bandung saya jadi rajin bersholat. setiap jam 4 pagi saya bangun dan berjalan kaki ke masjid. di sana saya berdoa bagi segenap manusia. saya berdoa buat papi, buat mami, buat venska dan venski yang sedang menuntut ilmu di belanda, buat opa dan oma, buat kamu, buat sahat, buat berty, dan buat buku Dari Sebuah Guci.

sekarang, saya tidak lagi ragu. dan jika tuhan sudah menetapkan waktunya, saya siap.

(sampai dengan saat ini fariz rm masih menderita kanker hati; sebagian sudah diangkat, namun sebagian masih berdiam di pankreasnya. tidak berkembang, katanya sambil tertawa lepas)

Semoga artikel kesaksian bisa menjadi berkat untuk Anda, sama seperti artikel ini menjadi berkat untuk saya dan suami. Have a blessed Sunday, kids of God.
Ledy Simanjuntak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s