My Hubby in Fashion, R u Sure?

Perkenalkan, 3 orang digambar ini ialah Suami saya sendiri, Denny Sitohang. Saya tertarik dengan gaya berpakaian dia sehari-hari yang cenderung casual dan monoton.. hahaha.. Cara berpakaian dia memang tipikal wartawan sejati yakni Jeans, Kaos Oblong, Sneakers, dan Ransel yang selalu menemani kesehariannya. Saat ini dia masih aktif sebagai wartawan di beberapa media seperti Medan Talk.com dan kantor berita internasional APTN.

Simak penuturannya mengenai style berpakaian dia berikut ini:

Kemarin, editor blog ini yang juga istri tercinta saya meminta satu tulisan tentang fesyen. Saya hanya tersenyum kecut ditodong seperti itu. Bagaimana tidak? Apa kapasitas saya untuk menulis soal fesyen? Sedangkan fesyen saya sehari-hari saja masih unfashionable. Saya sempat tertawa kecil.

Tapi karena si ibu editor setengah memaksa, akhirnya tak ada kata lain, saya harus menuliskannya juga. Setidaknya untuk memenuhi permintaannya dan dia bisa menghadiahkan senyumnya yang termanis buat saya.

Saya pikir-pikir kemudian, tulisan ini tidak untuk mengomentari fesyen orang lain. Di sini saya hanya akan bercerita soal fesyen saya. Seperti apa sih outfit saya sehari-harinya? Pakaian seperti apa yang saya gunakan saat mengikuti acara resmi, separuh resmi, atau bagaimana pula dandanan saat acara tak formal?

Orang-orang dekat saya pasti mereka sudah hapal bagaimana dandanan favorit yang juga menjadi dandangan sehari-hari saya. Kalau Anda bisa membayangkan bagaimana dandanan khas seorang mahasiswa baru, pasti Anda juga bisa membayangkan bagaimana dandanan saya sehari-harinya. Tak akan jauh beda!

Pakaian favorit saya sekarang ini adalah t-shirt atau yang lebih dikenal dengan kaos oblong. Soal warna, entah kenapa saya lebih memilih warna hitam dibandingkan warna lainnya. Memang, warna hitam tak terlalu bermasalah bagi saya, kulit saya lumayan terang, jadi pemilihan warna gelap masih sah-sah saja.

Kaos menjadi favorit saya karena jenis pakaian ini simple dan enak untuk dikenakan. Kota Medan yang cenderung panas menjadi lumayan adem kalau kita hanya mengenakan kaos saja. Bahannya yang tipis cukup membantu sirkulasi udara di balik pakaian yang kita kenakan. Jadi cukup membantu kalau udara sedang gerah-gerahnya. Kebetulan saya cowok, jadi mengangkat bagian bawah kaos dan mengipas-ngipaskannya menjadi sah-sah saja.

Lantas kaos yang bagaimana yang saya suka? Sebenarnya saya lebih suka kaos polos tanpa sablonan sama sekali. Ini hanya untuk menghindar dari kemungkinan ketemu orang yang mengenakan pakaian serupa di luaran sana. Kalau ketemu dengan orang yang sama-sama memakai kaos hitam polos, misalnya, pasti tak menjadi soal. Coba bandingkan jika Anda bertemu dengan orang yang memakai kaos bercorak yang serupa. Pasti dari jauh Anda ataupun dia akan buru-buru menghindar. Benarkan?

Jadi, kaos polos tanpa sablonan adalah lebih aman untuk digunakan. Tapi kalaupun harus mengenakan kaos yang bergambar, saya lebih memilih kaos bergambar tema otomotif. Misalnya bergambar mobil Land Rover atau sekadar sablonan logo Land Rover saja. Kaos seperti ini, kalaupun ketemu dengan orang  lain yang mengenakan sablonan serupa, sepertinya tak terlalu menjadi masalah. Ya sama-sama penggemar Land Rover mungkin, jadi ya cuek aja. Tapi itu opini pribadi saya tentunya.

Selain kaos, saya juga penyuka kemeja. Model yang saya suka adalah model regular biasa. Untuk kemeja, saya biasanya mengenakan ukuran M atau L. Tergantung merk dan modelnya tentunya. Setahu saya, masing-masing produsen atau merk tak mematok standar ukuran yang sama. Untuk kemeja, saya juga lebih suka yang polos satu warna, atau corak kotak-kotak. Entah kenapa, corak kotak lebih eye catching bagi saya. Untuk merk, saya tak memusingkannya. Asal enak dikenakan (bahan dan cutting), harga yang paling murah sekalipun akan saya pakai.

Saya memilih mengenakan kemeja dalam suasana separuh resmi. Misalnya ada janji wawancara atau memberikan kuliah. Kampus tempat saya mengajar mewajibkan dosennya untuk mengenakan pakaian rapi (kemeja), karenanya saya tak punya pilihan lain. Tapi untuk acara tak resmi, saya juga punya kemeja khusus. Anda tahu jenis kemeja lapangan yang sering digunakan para petualang? Kemeja berwarna khaki dengan dua kantong di depannya? Saya juga suka dengan kemeja seperti ini. Soalnya bisa menyimpan banyak perintilan kecil di kantongnya saat saya mesti bekerja di lapangan.

Selain kaos atau kemeja, saya biasanya juga menambahkan jaket kalau sedang keluar dengan sepeda motor. Maklum saja, saya juga tak mau kulit saya semakin menghitam karena teriknya matahari. Ada satu jaket yang paling sering saya gunakan. Jaket nylon hitam merk Ben Sherman dengan size M. Karena sudah lumayan lama, jaket ini kini mulai rada kusam.

Okelah dengan atasan. Bagaimana dengan bawahan? Celana favorit saya adalah jeans berwarna indigo blue. Tau kan jeans berwarna biru pekat yang meski sudah dicuci ke-15 kalinya, air bilasannya masih membiru karena warna jeansnya tertinggal? Dulu, jeans berwarna ini hanya didominasi merk Levi’s, Lee, Lea, atau Wrangler. Merk-merk itu harganya lumayan. Tapi itu dulu, sekarang, hampir semua merk jeans mengeluarkan warna seperti ini.

Suatu waktu, merk jeans favorit saya adalah Lea. Jeans ini harganya lebih murah dari Levi’s, tapi cutting dan kualitasnya sangat saya sukai. Kalau Levi’s pasti suka juga, tapi, amboi… harganya gak tahan. Saya pernah punya Levi’s tipe 505 dan tipe yang tak masuk ke Indonesia secara resmi, alias bukan bikinan PT Jay Gee Indonesia, sole agent Levi’s Indonesia. Levi’s ini saya dapatkan di Pekan Baru dari sebuah pasar yang banyak menjual barang-barang asal luar negeri seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Jeans ini, dari segi cutting mirip betul dengan Levi’s keluaran lokal. Tapi, emblem Levi’s yang menempel di sebelah kanan belakang berbeda. Ukurannya jauh lebih kecil dari emblem Levi’s standar. Namun logo dan semua tulisan lain di situ persis betul. Sayang, saya lupa kode tipenya.

Selain Levi’s dan Lea, merk jeans favorit saya adalah Lois. Alasannya sama seperti yang lain, selain model boot cut (tipe ini selalu menjadi pilihan saya), Lois juga punya koleksi warna indigo blue.

Lain dulu lain sekarang. Kalau dulu Levi’s enak dikenakan, sekarang kayaknya tidak begitu. Saya ngga tahu, apakah karena Levi’s yang mengubah desain potongannya, atau badan saya saja yang memang tak sesuai. Levi’s sekarang kurang pas di badanku yang cenderung kurus ini. Dua lalu saya beli Levi’s 505. Saat dipakai ternyata memang kurang nyaman.

Belakangan, saya mencoba Wrangler. Aha, ternyata ini yang lebih afdol dipakai. Karena enak dipakai, saya beli dua potong celana ini untuk dipakai bergantian. Memang, begitulah habit saya dalam menggunakan celana, terutama jeans. Saya akan memakai celana yang benar-benar saya suka sampai benar-benar tak pantas untuk dikenakan lagi. Celana lain, yang kurang nyaman dikenakan akan pension perlahan. Seperti si Levi’s 505 itu. Ada juga Levi’s 512 yang modelnya agak gede di bagian paha. Karena tak pernah lagi saya pakai, jeans ini berganti tuan. Kini dipakai oleh adekku yang paling kecil.

Selain jeans, saya juga punya celana dari bahan kain. Celana seperti ini saya tak punya banyak. Paling tiga potong. Warnanya juga tak banyak pilihan: hanya hitam. Celana ini saya kenakan hanya untuk acara-acara formal, ke undangan kawinan, atau beribadah ke gereja.

Padanan kaos oblong dan jeans inilah yang saya katakan sebelumnya sebagai fesyen santai ala saya sendiri. Outfit ini hampir selalu saya gunakan kemana-mana, tak terkecuali saat peliputan. Kadang, saya pernah lupa saat hari mesti mengajar. Saya bablas ke kampus pakai kaos oblong. Akhirnya, biar tak terlalu menyolok, di ruang kuliah jaket tak saya buka. Untunglah mesin pendingin di ruang kelas itu bekerja baik.

Selain pakaian, item pelengkap fesyen saya sehari-hari adalah sepatu kulit yang memang didesain untuk kegiatan outdoor. Merknya Columbia. Saya punya beberapa sepatu lain, tapi sepatu kulit berwarna coklat ini menjadi pilihan sehari-hari. Hampir lima tahun sudah ia saya kenakan. Sekarang, solnya mulai menipis, dan nampaknya ia harus segera pensiun. Memang, saya lebih menyukai untuk mengenakan sepatu dibandingkan sandal. Ini hanya untuk mengantisipasi saja, kalau-kalau tiba-tiba saya mesti meliput jadi saya tak mesti repot lagi harus pulang untuk mengganti sendal.

Selain itu, saya suka membawa tas untuk menyimpan peralatan pendukung seperti kamera atau net book. Untuk tasnya, sekarang ini saya punya 3 tas berbeda. Satu ransel (day pack) merk Eiger berwarna hitam. Terus ada juga tas sandang merk Land Rover juga berwarna hitam. Dan satu lagi tas sandang khusus untuk menyimpan kamera. Kalau matahari sedang tak bersahabat, saya akan mengenakan topi yang sudah selalu disiapkan di dalam tas.

Singkatnya, apapun padanan atas dan bawahan, saya selalu berusaha untuk tampil lebih santai. Bagi saya, fesyen yang baik dan bagus bukan sekadar model dan merknya, tapi lebih pada kegunaan dan kenyamanannya saat dikenakan. Rasa nyaman akan mendongkrak nilai dari fesyen itu secara keseluruhan. Well, bukankah saat kita sudah merasa nyaman, rasa percaya diri juga akan terdongkrak?

Oke, itu dia sekilas tentang penampilan sehari-hari Bang Denny, simpel dan mementingkan kenyamanan. Oh ya, ada satu hal lagi yang bisa membuat penampilannya berubah yakni BREWOK.Bulu-bulu yang hinggap di tubuhnya ini juga menjadi ciri khas dia. Kalo ga ada brewok, tampangnya kaya anak-anak, tapi kalo sudah brewok, percis kaya pasukan afganistan.

Bagaimanapun gaya dan “bentuk” dia, bang Denny tetaplah belahan jiwaku. I love him.. I love u, pa !!

Ur Ma,

Ledy Simanjuntak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s